Lowongan Kerja 1 Juta Tenaga Kerja Lapangan di Amerika Serikat, Disiapkan Gaji Sampai 2 M

  

Amerika Serikat Butuh Ratusan Ribu Pekerja Lapangan Konstruksi, Disiapkan Gaji Sampai 2 M





Jakarta, Baca Berita Kota, 03/10/2025
Amerika Serikat sedang membutuhkan ratusan ribu tenaga kerja lapangan, termasuk pekerja konstruksi lapangan, tenaga listrik, tukang kayu, tukang ledeng, dan pekerja lapangan lain.

Jensen Huang, CEO Nvidia, menyampaikan data kebutuhan besar tenaga kerja lapangan ini.
Jensen mengatakan bahwa meski saat ini, perkembangan teknologi berbasis Artificial Intelegent sangat pesat di seluruh dunia, faktanya peluang kerja masih terbuka lebar di banyak lokasi pekerjaan lapangan.

"Jika Anda adalah tukang listrik, tukang ledeng, atau tukang kayu, akan dibutuhkan ratusan ribu tenaga untuk membangun pabrik," kata Huang sebagaimana yang dikutip oleh Channel 4 News.

Jensen Huang, pengusaha Amerika Serikat, dengan perusahaan Nvidia nya memiliki peran kunci dalam perkembangan AI global. Menurut Laporan Forbes Huang tercatat memiliki kekayaan 164 miliar USD (sekitar Rp 3280 triliun). Kekayaan nya melesat pasca popularitas AI membuat kebutuhan chip AI kian tinggi. Ia menjadi orang terkaya ke-8 di dunia saat ini. Magister Teknik Elektro dari Standford University Amerika Serikat ini lulus Magister Teknik Elektronya pada tahun 1992.

Jensen yang dilahir di Taiwan, sempat bersama keluarga intinya, ayah ibunya, pindah dari Taiwan dan memutuskan hidup di Thailand. Sebelum akhirnya, ayahnya, memutuskan untuk pindah ke Amerika Serikat. Sebelum sukses mengembangkan bisnis teknologi chip set di Nvidia, Jensen Huang bahkan pernah bekerja menjadi tukang cuci piring di restoran di Amerika Serikat. Sehingga pengetahuannya tentang dunia kerja lapangan non teknologi, juga menjadi cukup valid. Lulus Sarjana Elektro pada tahun 1984 dari Oregon State University, Jensen Huang memulai Nvidia hanya dengan modal 40 ribu USD (400 juta rupiah)

" Ada ribuan peluang kerja bagi generasi muda yang mau terjun langsung di lapangan, " kata Jensen Huang.

Menurut Huang, pengembangan bisnis dan teknologi Artificial Intellegence (AI) sangat membutuhkan dukungan fasilitas data center raksasa di mana-mana. Untuk itu, dibutuhkan tenaga kerja lapangan dalam jumlah besar dalam membangun data center tersebut.

"Segmen pekerjaan terampil lapangan di setiap lokasi kerja ini akan mengalami lonjakan. Pertumbuhannya harus berlipat ganda, berlipat ganda, dan berlipat ganda setiap tahunnya," kata Huang lagi, seperti dikutip Yahoo Finance, Jumat (3/10/2025).

Akhir September lalu, Nvidia baru mengumumkan investasi senilai 100 miliar USD (Rp 2000 triliun) ke OpenAI untuk membiayai pengembangan data center berbasis prosesor AI Nvidia. Dalam perhitungan pengembangan industri sendiri yang dilakukan oleh McKinsey, pengeluaran belanja modal untuk data center diproyeksikan mencapai 7 triliun USD (Rp 14 ribu trilyun) pada 2030 mendatang.

Satu fasilitas data center seluas 2,4 hektar (250.000 kaki persegi) diperkirakan akan dapat memperkerjakan 1.500 tenaga konstruksi lapangan selama pembangunannya. Mayoritas para pekerja lapangan ini bisa mendapatkan gaji borongan 100 ribu USD (Rp 2 miliar) pada saat pembangunan fasilitas data centre, belum termasuk uang lembur.

Pekerjaan konstruksi lapangan, bahkan tidak membutuhkan gelar sarjana. Setelah pembangunan selesai, ada 50 pekerja penuh yang dibutuhkan untuk merawat fasilitas tersebut.

Tidak berhenti di situ saja. Masing-masing dari semua pekerja tersebut memacu 3,5 lapangan pekerjaan lain di sekitarnya, yang otomatis akan mendongkrak perekonomian.

Huang menyerukan kepada dunia kerja, agar menyediakan lebih banyak teknisi listrik dan tukang ledeng sejalan dengan pandangannya yang lebih luas, bahwa gelombang peluang berikutnya terletak pada sisi fisik teknologi, bukan hanya sekedar karya software semata.

Kepada pers, Huang juga menyatakan, bahwa disiplin ilmu yang berakar pada fisika, adalah bidang yang paling menjanjikan dipelajari oleh para pemuda, sampai dengan 20 tahun yang akan datang.

"Untuk Jensen muda berusia 20 tahun yang sudah lulus sekarang, ia mungkin akan memilih... lebih banyak ilmu fisika daripada ilmu software," kata Jensen, menggambarkan apa yang akan dia pilih jika harus menjalani dunia kerja untuk 20 tahun yang akan datang. Lebih banyak belajar fisika daripada ilmu pembuatan dan pengembangan software.

Nasihat Jensen, agar belajar kembali ke bidang fisika, berarti kembali belajar ke ilmu-ilmu dasar dibandingkan dengan mempelajari pembuatan dan pengembangan software yang merupakan bidang ilmu cabang dan pengembangan dari ilmu-ilmu dasar seperti fisika.

Jensen Huang bukan satu-satunya yang memiliki pemikiran ini. Pada awal 2025, CEO BlackRock, Larry Fink mengungkapkan kekhawatirannya kepada Gedung Putih, soal kebijakan deportasi besar-besaran para pekerja imigran, ditambah kurangnya ketertarikan kaum muda AS untuk terjun di sektor konstruksi data center.

"Saya bahkan mengatakan kepada tim Presiden Donald Trump, bahwa kita akan kehabisan teknisi listrik yang dibutuhkan untuk membangun data center AI," kata Fink, memperkuat apa yang disampaikan oleh Jensen Huang.

Petinggi bisnis lain CEO Ford, Jim Farley juga mengemukakan kecemasan serupa. Jim Farley menyoroti ketimpangan antara ambisi manufaktur Washington dan ketersediaan tenaga kerja di lapangan.

"Saya rasa niatnya ada, tapi tidak ada yang bisa menggantikan ambisi itu. Bagaimana kita bisa memindahkan semua ini ke tempat lain jika kita tidak punya orang untuk bekerja di sana?" ujar Farley.

Menurut unggahan Farley di LinkedIn pada Juni 2025, AS sudah kehilangan 600.000 pekerja pabrik dan 500.000 pekerja konstruksi. Para pekerja lapangan ini yang membantu mempersiapkan sektor infrastruktur yang mendukung lancarnya sektor berbasis teknologi tinggi. Jika para pekerja lapagan ini tidak tersedia, maka seluruh struktur ekonomi berbasis teknologi tinggi yang direncanakan dibangun, akan berhenti berkembang (VIJAY)








Redaksi

Previous Post Next Post