Hadapkanlah Wajahmu Pada Fitrah Allah (Blue Print Allah)
Hadapkanlah wajahmu ke Ad Diin yang hanif.
Fitrah Allah karena manusia telah di fithahkan dengan itu. Tidak ada tabdi (perubahan) pada kholqi (ciptaan) Allah.
Itulah Din Al Qoyyim. Akan tetapi tak banyak manusia yang tidak faham.
Ramadhan ke 21, 1446
Surat 30 ayat 30 ini termasuk ayat istimewa. Ada kata Din Hanif, dan ada Din Al Qoyyim yang berada di awal dan di akhir ayat. Sementara di tengah-tengah ada kata fitrah Allah. Ini merujuk pada sebuah blue print dari Allah. Ada sebuah blue print penting dari Allah yang itu sudah melekat di manusia. Manusia itu diciptakan dengan sebuah blue print khusus. Sebuah tujuan khusus, penciptaan manusia itu dengan tujuan yang khusus.
Adanya blue print khusus ini ternyata tidak hanya pada manusia, akan tetapi pada setiap ciptaan Allah la tabdi Li kholqi Allah, maksudnya tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.
Manusia dan alam semesta ciptaan mempunyai fitrah atau dalam bahasa keren sekarang disebut juga blue print. Adanya blue print itu membuat ciptaan Allah itu akan punya karakter la tabdi Li kholqi Allah, Karakter ajaib dari seluruh makhluk ciptaan Allah sebagai mana yang disampaikan dalam QS.30:30 ini yang membuat munculnya ilmu pengetahuan. Karena hampir semua ciptaan Allah itu ternyata bisa difahami dan bisa dipelajari karakter nya.
Einstein adalah salah satu ilmuwan dunia yang kagum dengan seluruh keteraturan yang ada di seluruh alam semesta ini.
" Sungguh aneh bahwa alam semesta ini ternyata bisa difahami dan bisa dipelajari... Hal itu adalah hal paling aneh...bagaimana mungkin hal serumit dan sekompleks itu bisa dipelajari dan difahami.."
Dalam kesempatan yang lain Einstein juga menyatakan bahwa eksistensi Tuhan itu memang benar benar ada.
" Tuhan tidak sedang bermain dadu..." Kata Einstein saat memberikan pemahaman tentang betapa rumitnya alam semesta yang teratur ini.
Ayat Al Qur'an 30:30 ini, (Surat 30 ayat ke 30) ini fokus pada manusia, an nas, bahwa manusia itu juga punya blue print. Manusia tidak diciptakan acak. Tapi yang mengejutkan adalah manusia itu ternyata punya maksud penciptaan, punya misi, punya tugas yang harus dikerjakan, yang harus diselesaikan dengan sempurna.
Saat itu dicapai dan dikerjakan maka itu disebut sebagai kondisi dinul qoyyim. Kondisi agama yang tegak. Dalam sebutan lain itu disebut sebagai mengikuti agama yang hanif.
Apakah mengerjakan sholat itu disebut beragama ? Ya tapi tidak hanya itu. Unsur beragama itu dalam konteks pembelajaran detail. Ada unsur Islam, Iman, dan Ihsan yang menyertai sebuah ibadah Sholat.
Yang lebih dalam lagi adalah bahwa bukan hanya dalam ibadah khusus, fitrah itu mengait erat, akan tetapi terkait dengan ibadah khusus yang lebih khusus untuk setiap manusia. Manusia adalah 'lex specialist" bukan "lex generalist". Seperti pesan Rasulullah bahwa antum A'lamu Bi Ummuri Dunia Kum.
Baca Juga
Antum A'lamu Bi Ummuri Dunia Kum
Fitrah itu ada dalam konteks kehidupan sehari-hari, bukan hanya dalam hal ibadah khusus. Bahkan dalam hal makanan saja tiap-tiap manusia berada dalam fitrah tertentu. Tidak bisa manusia dengan kode DNA tertentu terlalu banyak makanan dengan kandungan zat gula yang terlalu tinggi. Manusia yang lain dengan kode DNA yang berbeda tidak bisa makan terlalu banyak garam.
Tingkat pengetahuan manusia sudah masuk dalam tingkat pengetahuan DNA. Penelitian terhadap genom, peta DNA manusia telah menemukan bagaimana peta genetis yang membentuk karakter khas pada tubuh manusia.
Dan karakter khas DNA ini hanya menunjukkan bahwa penciptaan manusia itu mengikuti sebuah pola khas tertentu untuk tujuan tertentu.
Setiap manusia diciptakan untuk sebuah tugas khusus yang spesifik. Tidak ada satupun yang sama.
Mengerjakan tugas yang spesifik sesuai dengan blue print penciptaan masing-masing manusia itulah fitrah, kata yang menjadi tujuan ibadah Ramadhan, sebulan penuh. Iedul Fitri berasal dari kata inti fitrah ini.
Laallakum tattaquun, agar bertakwa adalah tujuan dari puasa Ramadhan. Fitrah itu dicapai dengan kondisi takwa.
Apakah takwa itu ?
Begitulah makna fitrah atau blue print itu. Dan yang berada dalam kondisi fitrah itu lah yang disebut sebagai dinul qoyyim, penegak agama, atau dinul Hanif. Seperti Nabi Ibrahim yang mengikuti dinul Hanifa.
Redaksi
Baca Juga
Dan Pasti Kami Tunjuki Kepada Shirothol Mustaqim
Hadapkanlah Wajahmu Pada Fitrah Allah (Blue Print Allah)
Baca Juga
Dan Pasti Kami Tunjuki Kepada Shirothol Mustaqim
Hadapkanlah Wajahmu Pada Fitrah Allah (Blue Print Allah)
Antum A'lamu Bi Ummuri Dunia Kum

