PB XIII Wafat, Dimakamkan di Imogiri Yogyakarta 4 November 2025

 PB XIII Wafat,  Dimakamkan di Imogiri Yogyakarta 4 November 2025



Solo, Informatika News Line, 02/10/2025 

Raja Keraton Surakarta, Sri Susuhunan Pakubuwana XIII Hangabehi meninggal dunia dalam usia 77 tahun pada Minggu (2/11), sekitar pukul 07.30 WIB. 

Rencananya Jenazah Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan PB XIII akan dimakamkan di Pajimatan Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Salah satu kerabat Keraton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi mengatakan rencananya jenazah Pakubuwana XIII akan dimakamkan pada Selasa (4/11).

"Sedang dibicarakan. Pemakaman kemungkinan besar di hari Selasa Kliwon. Kebetulan besok kan Selasa Kliwon," kata Eddy.

Ia menambahkan jenazah Pakubuwana XIII akan disemayamkan di Sasana Parasdya yang berada di kompleks Kedhaton Keraton Surakarta. Upacara adat akan dilaksanakan untuk melepas kepergian pemimpin Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat itu.

"Sesuai ketentuan, upacara adat akan dilakukan secara lengkap," kata Eddy.

Kabar Sri Susuhunan Pakubuwana XIII meninggal dunia sebelumnya dikonfirmasi oleh salah satu kerabat PB XIII, R.Ay Febri Hapsari Dipokusumo, dan juru bicara Mahamenteri Keraton Surakarta KGPHPA Tedjowulan, Bambang Ary Wibowo.

Berita duka tersebut terjadi setelah Pakubuwana XIII Hangabehi menjalani perawatan di rumah sakit sejak beberapa waktu terakhir.

PB XIII, Naik Takhta di Tengah Konflik Raja Kembar Keraton Surakarta

Lahir dengan nama asli Gusti Raden Mas Suryo Partono pada 28 Juni 1948, diangkat menjadi Susuhunan Surakarta sejak 2004.

Sebelum menjadi pemimpin Kesunanan Surakarta Hadiningrat, Pakubuwana XIII Hangabehi pernah bekerja di Caltex Pacific Indonesia. Ia juga pernah mendapatkan gelar dari sejumlah lembaga dalam dan luar negeri.

Langkah PB XIII menjadi Raja Solo sempat tak berjalan mulus di awal. Saudaranya yang lain dari ibu yang berbeda, yakni Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan juga mengklaim berhak atas takhta.

Konflik tahta raja berawal dari wafatnya PB XII pada Juni 2004 yang belum menunjuk penerus tahta, sementara permaisuri belum ditetapkan, sehingga putra mahkota penerus tahta juga belum ditetapkan 

Dua putra Pakubuwana XII, KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan masing-masing menyatakan diri sebagai Pakubuwana XIII (PB XIII)

Konsesus keluarga kemudian memutuskan Hangabehi lah yang diberi gelar Pakubuwono XIII, dan Tedjowulan menyatakan keluar dari keraton.

Akan tetapi konflik memanas hingga pada September 2004, kubu Tedjowulan sempat menyerbu dan mendobrak pintu Keraton Surakarta.

 Peristiwa itu menyebabkan sejumlah  orang luka-luka, termasuk para bangsawan dan abdi dalem yang saat itu berada di dalam keraton.

Konflik Tahta Raja Kembar berlangsung hingga tahun 2012. 

Pada momen islah itu, Tedjowulan akhirnya mengakui gelar PB XIII menjadi milik KGPH Hangabehi, sementara Tedjowulan didapuk menjadi mahamenteri dengan gelar KGPH Panembahan Agung.

Di Kasunanan Surakarta, Hangabehi pernah menjabat sebagai Pangageng Museum Keraton Surakarta dan berbagai jabatan penting lainnya.

Ia juga mendapat anugerah Bintang Sri Kabadya I oleh ayahnya, Pakubuwana XII, atas jasa-jasanya dalam mengatasi musibah kebakaran yang melanda Keraton Surakarta pada 1985. .

Di luar keraton, Hangabehi pernah bekerja di Caltex Pacific Indonesia, Riau, sebelum akhirnya pindah ke Jakarta.

Dalam upacara Tingalan Dalem Jumenengan yang ke-18 pada 27 Februari 2022 silam, PB XIII mengangkat putranya KGPH Purubaya sebagai putra mahkota Kasunanan Surakarta dengan gelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamangkunegara Sudibya Rajaputra Narendra Mataram.

Dengan demikian KGPAA Hamangku Negara, Narendra Mataram akan menduduki tahta setelah ayahnya PB XIII meninggal dunia.


Laporan : MIG















Redaksi

Previous Post Next Post